Roller Coaster di Jalur Khusus: Menjemput Dinginnya Cisarua
Pukul sepuluh tepat, roda mobil kembali menyentuh aspal Jawa di wilayah Banten, mengawali petualangan darat setelah menyeberang. Peta digital segera dihidupkan sebagai penuntun arah, mengarahkan laju kendaraan menuju Kebun Raya Bogor. Namun, perjalanan harus berhadapan dengan kepadatan lalu lintas yang merayap lambat. Barulah setelah waktu Dzuhur berlalu, kami akhirnya berhasil memasuki area hijau yang dinanti: Kebun Raya Bogor.
Setelah memarkirkan mobil dengan baik, kami menyewa empat unit "kuda besi listrik" alias sepeda elektrik, dan mulailah petualangan berkeliling menelusuri setiap sudut hijau kebun raya. Acara puncaknya? Sesi foto wajib di luar pagar depan Istana Bogor, sebagai bukti bahwa kami pernah "nyamperin" tempat ini - meski cuma sampai gerbangnya saja. Pokoknya, kenangan keluarga harus tetap terabadikan, meski cuma dari luar pagar!
Setelah puas "menginvasi" setiap sudut Kebun Raya Bogor, kami pun keluar dan mulai berburu penginapan lewat aplikasi. Syaratnya cuma satu: harus deket banget sama Taman Safari Bogor! Soalnya, besok agenda utamanya adalah berkenalan dengan para penghuni rimba itu.
Begitu dapat, kami langsung gaspol mengikuti arahan si peta digital. Tapi, ah nasib! Sampai di Simpang Gadog, jalan ditutup - cuma satu arah, dan bukan arah kami. Tiba-tiba, muncullah pahlawan dadakan yang siap "menyelamatkan" kami dengan jalan alternatif. Syaratnya cuma satu: satu lembar rupiah merah yang bikin hati sedikit berdarah-darah. Ya sudah, deal!
Dia pun memandu kami sampai mulut jalan yang katanya "khusus". Dan, bismillah... petualangan roller coaster gratis pun dimulai! Jalanannya berkelok, menanjak nge-gas, lalu terjun curam seolah-olah kami ikut lomba downhill, dan belokannya tajam sampai setir hampir "mohon diri". Persis seperti naik-turun hidup dan kehidupan - tapi versi yang bikin degup jantung ikut ikutan ngebut!
Akhirnya, pukul 16.30 kami sampai di jalan utama. Tapi, ternyata belok kanan ke Taman Safari masih haram. Kabarnya baru dibuka dua arah jam 5 sore. Daripada bengong, mending belok kiri dan serbu Rumah Makan Ayam Bakar & Goreng "Karomah" Cisarua.
Dan ternyata... ini bukan sekadar rumah makan, ini surganya perut! Cucu saya sampai komentar, "Enak tenan!" Persis seperti kata iklan TikTok: "Endolita Bambang Suganda" - dan kami semua mengangguk setuju sambil melahap makanan. Lumayan, perut kenyang, hati senang!
Saat kami menyantap hidangan, terdengar bunyi sirene dari kejauhan yang kian mengeras seiring jaraknya yang semakin mendekat. Ternyata, suara tersebut merupakan penanda bahwa ruas jalan tersebut telah dibuka kembali untuk arus dua arah. Rombongan petugas kepolisian hadir untuk mengamankan dan membuka jalur bagi kendaraan dari arah Gadog menuju Taman Safari.
Setelah selesai makan dan memberi waktu sejenak bagi nasi untuk "bertengger" di tempat yang semestinya dalam tubuh kami, perjalanan pun dilanjutkan menuju penginapan. Maps kembali dihidupkan sebagai penunjuk arah setia, dan ternyata... jalan yang kami lalui kali ini seolah-olah hendak menjajal nyali kami lagi!
Tidak jauh beda dengan rute sebelumnya, jalannya berliku-liku dengan tanjakan dan turunan yang begitu ekstrem, membuat kami merasa seperti sedang mengikuti ajang lomba rally dadakan. Tapi, akhirnya dengan napas terengah dan sedikit rasa lega, kami tiba juga di penginapan yang terletak di ketinggian Cisarua, Bogor - sebuah tempat yang membuat kami merasa seperti sudah sampai di "puncak" petualangan hari itu!
Bogor, 30 Desember 2025

Kereeen
BalasHapusPerjalanan jadi lebih sepesial
Hatur nuhun telah berkunjung dan meninggalkan jejak
BalasHapus